Hubungan Pendidikan Islam Dalam Keluarga Dengan Pengamalan Agama Siswa

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah
Setiap manusia yang berpredikat muslim, tentunya benar-benar akan menjadi penganut agama yang baik, mentaati ajaran Islam dan menjaga agar rahmat Allah SWT. tetap berada pada dirinya. Untuk memperoleh rahmat itu maka ia harus mampu memahami, menghayati, dan mengamalkan ajarannya sesuai iman dan akidah Islamiyah.
Pendidikan Islam mengembangkan akal agar berpikir sehat, merendahkan diri, tunduk kepada kebenaran, menjaga amanat ilmiah, mencari kebenaran tanpa menuruti hawa nafsu, menggunakan apa yang diketahui, dan tidak merasa puas dengan hanya memiliki ilmu teoritis. Pengetahuan saja tidak cukup, akan tetapi harus disertai dengan penerapannya.
Keluarga merupakan salah satu lembaga pendidikan non formal pertama yang banyak memberi pengajaran agama kepada anak. karena disitulah tahap awal proses pendidikan dan perkembangan anak dimulai. Sebelum anak memasuki sekolah, anak telah mengalami proses pendidikan melalui keluarga. Keluarga yang terdiri dari ayah dan ibu merupakan pendidik utama dan pertama bagi anak.
Keluarga merupakan unit sosial terkecil dalam kehidupan umat manusia sebagai makhluk sosial. Keluarga juga merupakan unit pertama dalam keluarga, karena disitulah tahap awal proses pendidikan dan perkembangan anak dimulai. Dengan demikian keluarga merupakan pendidik utama bagi anak-anaknya termasuk tanggung jawabnya dalam mengajarkan agama Islam. Tanggung jawab ini sebagaimana tercantum dalam Al Qur’an surat At-Tahrim ayat 6 sebagai berikut:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا قُوا أَنفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَاراً (التحريم : 6)
“Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka”.
Dalam hadits juga disebutkan :
كل مولود يو لد علىالفطرة, حتى يعرب عنه لسانه فاء بواه يهودا نه, او ينصرا نه, او يمجسا نه. (رواه الا سود بن سريع).

Setiap anak dilahirkan dalam keadaan suci, hingga lisannya dapat mengungkapkan kehendak dirinya, maka kedua orang tuanyalah yang menjadikannya sebagai orang Yahudi, Nasrani, atau orang Majusi.
Untuk melaksanakan proses pendidikan agama, maka dibutuhkan hubungan yang harmonis baik antara sesama keluarga maupun antar anggota keluarga. Oleh sebab itu sudah sewajarnya anak-anak menjalin hubungan kasih sayang dengan orang tuanya serta berbakti kepadanya. Berbakti kepada orang tua dapat dilakukan kapan saja sesuai dengan kemampuan dan tidak perlu menunggu kalau sudah dewasa, atau sudah kaya dan sebagainya.
Pengamalan agama dalam keluarga harus dimulai dari diri sendiri (ibu dan bapak) dan kemudian barulah keluarga yang terdekat dan sesudah itu barulah anggota masyarakat lainnya. Pendidikan agama (Islam) dalam keluarga antara lain anak dibiasakan patuh, berbudi luhur, berdisiplin, pandai menempatkan diri sebagai hamba Allah SWT., dan pandai bergaul dengan masyarakat.
Namun demikian mendidik anak usia pendidikan dasar tidaklah mudah, sebab pada masa itu kemampuan pengendalian diri anak masih terbatas. Sehingga orang tua ketika mendidik harus mengetahui metode yang sesuai dengan pertumbuhan dan perkembangan psikologi anak. Pertanyaannya adalah apasaja metode yang sesuai dengan pertumbuhan dan perkembangannya?
Pendidikan Islam tidaklah cukup ditangani orang tua saja, apalagi diketahui ada orang tua yang masih sedikit pengetahuan agamanya. Oleh karena perlu melakukan kerjasama antara orang tua dan sekolah (guru) agar terjadi hubungan timbal balik dan saling membantu. Namun seringkali kurang menyadari setelah anaknya masuk sekolah pendidikan diserahkan seratus persen kepada guru.
Hal ini seperti dikemukakan Ahmad Tafsir, bahwa :
Banyak orang tua mempercayakan seratus persen pendidikan agama bagi anaknya ke sekolah, karena di sekolah ada pendidikan agama dan ada guru agama. Orang tua agaknya merasa bahwa upaya itu telah mencukupi. Sebagian orang tua menambah pendidikan agama (Islam) bagi anaknya dengan cara menitipkan anaknya ke pesantren sungguhan, pesantren kilat, atau mendatangkan guru agama ke rumah. Dengan cara itu mereka mengira bahwa anak-anak mereka akan menjadi orang yang beriman dan bertakwa.
Pendapat di atas juga banyak dijumpai di sekolah maupun madrasah, bahwa guru yang merasa kewalahan dalam mendidik anak didiknya akibat kurangnya perhatian dan pengawasan dari orang tuanya. Dimana anak seringkali melakukan tindakan yang kurang terpuji, tidak sopan dan sering melakukan kesalahan yang seringkali diulang. Demikian juga ketika anak mengikuti proses belajar mengajar di kelas, anak yang masih kurang pengalaman agamanya akhirnya tidak bisa mengikuti dengan baik, banyak kendala termasuk prestasi belajar mata pelajaran Aqidah Akhlak sebagai integral dari pendidikan agama.
Sebagaimana studi pendahuluan yang peneliti lakukan pada tanggal 28 Nopember 2011 di MI Islamiyah Ketanggan Kecamatan Gringsing Kabupaten batang, diketahui bahwa sebagian besar orang tua siswa tingkat pendidikannya rata-rata menengah ke bawah (SLTA). Demikian juga dilihat mata pencahariannya, banyak yang menjadi buruh, petani dan wiraswasta yang tidak memiliki penghasilan tetap seperti halnya pegawai. Tentunya lebih mengutamakan kebutuhan hidup yang mendesak ketimbang melakukan banyak bimbingan agama yang nota bene sudah menyerahkan kepada madrasah. Hal tersebut tentu berdampak pada pengamalan agama putra-putrinya dalam kehidupan sehari-hari.
Dari keadaan tersebut, mendorong peneliti untuk melakukan penelitian lebih lanjut dalam skripsi yang berjudul: “HUBUNGAN PENDIDIKAN ISLAM DALAM KELUARGA DENGAN PENGAMALAN AGAMA SISWA KELAS V DI MI ISLAMIYAH KETANGGAN KECAMATAN GRINGSING KABUPATEN BATANG TAHUN PELAJARAN 2011/2012”.
B. Identifikasi Masalah
Berdasarkan latar belakang masalah tersebut di atas, peneliti mengidentifikasi masalah sebagai berikut :
1. Sebagian besar tingkat pendidikan agama keluarga siswa SLTA, kemudian SLTP dan SD. Hal ini tentunya akan berpengaruh pada cara memberi pendidikan agama pada anak di tengah keluarga
2. Perhatian dan pengawasan orang tua terhadap anak masih rendah, hal ini dibuktikan ketika anak berada di madrasah sikap dan perilaku mereka masih kurang baik.
3. Kerjasama antara Orang tua dan madrasah (guru) masih rendah, sehingga kurang mengetahui perubahan sikap dan perilaku anaknya.
4. Guru harus bekerja keras untuk mengatasi kelemahan yang ada pada anak didiknya, yaitu dengan memberikan pemahaman yang mendalam mengenai keimanan dan akhlak mulia.
5. Akibat dari rendahnya pendidikan Islam pada anak kurang diperhatikan oleh keluarga, sehingga perubahan sikap dan perilaku anak rendah pula.

C. Pembatasan Masalah
Agar penelitian ini tidak bias, maka perlu pembatasan masalah dalam penelitian, yaitu :
1. Pendidikan Islam dalam keluarga, antara lain; pendidikan keteladanan, pendidikan kebiasaan, dan nasehat kedua orang tua.
2. Pengamalan agama anak, yaitu berkaitan dengan amal ibadah anak yang antara lain; praktik shalat lima waktu, praktik membaca Al Qur’an, praktik membaca do’a, dan praktik berwudlu.
3. Yang menjadi objek penelitian adalah orang tua (ayah/ibu) dan siswa MI Islamiyah Ketanggan Kecamatan Gringsing Kabupaten Batang pada tahun pelajaran 2011/2012.

D. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang masalah tersebut di atas, maka rumusan masalah dalam penelitian ini adalah sebagai berikut :
1. Bagaimanakah bentuk pendidikan Islam dalam keluarga siswa MI Islamiyah Ketanggan Kecamatan Gringsing Kabupaten Batang?
2. Sejauhmanakah pengamalan agama siswa kelas V MI Islamiyah Ketanggan Kecamatan Gringsing Kabupaten Batang tahun pelajaran 2011/2012?
3. Adakah hubungan positif antara pendidikan Islam dalam keluarga dengan pengamalan agama siswa kelas V MI Islamiyah Ketanggan Kecamatan Gringsing Kabupaten Batang tahun pelajaran 2011/2012?

E. Manfaat Penelitian
1. Manfaat Teoritis
Dengan hasil penelitian ini diharapkan menjadi masukan dan informasi (literatur) dalam usaha meningkatkan mutu dan kualitas pendidikan di madrasah yang berkaitan dengan pendidikan Islam dan pengamalan agama pada anak khususnya.
2. Manfaat Praktis
a. Bagi guru
Dengan hasil penelitian dapat menambah wawasan pengetahuan bagi guru dalam melaksanakan pembelajaran. Dimana guru akan mengetahui berbagai macam karakteristik dan perbedaan yang ada pada keluarga siswa. Mengetahui bentuk pendidikan Islam orang tua siswa, kelebihan dan kelemahan yang dimiliki anak didiknya.
b. Bagi siswa
Siswa sebagai subyek langsung dari penelitian ini, yang langsung yang menerima pendidikan, seharusnya ada perubahan-perubahan dalam diri siswa baik dari aspek kognitif, psikomotorik, dan efektif sehingga penelitian sangat menguntungkan bagi siswa. Sehingga diharapkan mampu mengamalkan agama secara baik dan benar.
c. Bagi sekolah
Memberikan sumbangan pemikiran sebagai alternatif meningkatkan kualitas pengajaran agama di madrasah dalam upaya menciptakan generasi yang mempu mengamalkan ajaran agama dalam kehidupan pribadinya.

d. Bagi peneliti
Menambah wawasan pengetahuan peneliti berkenaan dengan masalah pendidikan Islam dalam keluarga dan pengamalan agama pada anak yang masih duduk di bangku pendidikan dasar.

F. Sistematikan Penulisan Skripsi
Untuk memudahkan penulis dalam penulisan skripsi ini maka penulis menyusun sistematika penulisan sebagai berikut :
1. Bagian pertama meliputi; halaman judul, abstraksi, halaman nota pembimbing, halaman pengesehan, halaman motto, halaman persembahan, halaman kata pengantar, daftar table, dan daftar isi.
2. Bagian kedua merupakan isi dari skripsi, meliputi :
BAB I : PENDAHULUAN, membahas; latar belakang masalah, Identifikasi masalah, pembatasan masalah, perumusan masalah, manfaat penelitian dan sistematika penulisan skripsi.
BAB II : PENDIDIKAN ISLAM DALAM KELUARGA DAN PENGAMALAN AGAMA, bab ini terdiri dari tiga sub bab; sub-bab pertama, mengenai landasan teori pendidikan Islam dalam keluarga, dan pengamalan agama, sub-bab kedua, kajian penelitian yang relevan, dan sub-bab ketiga, pengajuan hipotesis.
BAB III : METODE PENELITIAN TENTANG PENDIDIKAN ISLAM DALAM KELUARGA DAN PENGAMALAN AGAMA DI MI ISLAMIYAH KETANGGAN KECAMATAN GRINGSING KABUPATEN BATANG, bab ini membahas; tujuan penelitian, waktu dan tempat tenelitian, variabel penelitian, populasi dan sampel, teknik pengambilan sampel, teknik pengumpulan data, teknik analisis data.
BAB IV : HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN TENTANG PENDIDIKAN ISLAM DALAM KELUARGA DAN PENGAMALAN AGAMA, Dalam bab ini terdiri empat sub-bab, pertama; Deskripsi Data Hasil Penelitian, kedua, anaisis data hasil penelitian, ketiga pembahasan hasil penelitian, dan keempat, keterbatasan penelitian.
BAB V : KESIMPULAN, SARAN DAN PENUTUP, terdiri dari; kesimpulan, saran dan kata penutup.
3. Bagian akhir terdiri dari daftar pustaka dan lampiran-lampiran

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s